www.nining-meida.webs.com

Catetan

view:  full / summary

Nining Meida, Aura Priangan di Balik "Kalangkang"

Posted by nining-meida on March 7, 2010 at 12:38 AM Comments comments (0)

Hanjakal ….

hanjakal teuing

Endah ngan ukur kalangkang…

Harepan ……harepan …. diri

Sing nyanding jeung kanyataan


Penikmat lagu-lagu Sunda tentu tahu betul penggalan lirik di atas.Itulah bait terakhir lagu ”Kalangkang” ciptaan Nano S. yang disenandungkan oleh Nining Meida. Meski musik pengiringnya relatif sederhana dan cenderung repetitif, lirik-liriknya begitu lembut dansarat oleh untaian kata-kata puitis. Maka, meski sempat disambut sinis dan kontroversi karena dianggap menyalahi pakem tradisi, kehadiran”Kalangkang” dengan Nining Meida-nya telah memberi napas baru bagi perkembangan industri pop Sunda.


Antara ”Kalangkang” dan Nining Meida seolah tercipta sebuah chemistry. Antara lagu dan penyanyi terikat oleh sebuah pertautan yang sulit dipisahkan. Sebuah keputusan yang tepat ketika Nano S. sebagai pencipta lagu dengan bantuan arranger Yan Ahimsa, mengaransemen ulang lagu tersebut dari lagu degung menjadi pop Sunda. Dan seperti menjadi sebuah takdir, lagu ”Kalangkang” memang sengaja diperuntukkan bagi seorang Nining Meida.


Agak sulit membayangkan apa jadinya jika ”Kalangkang” dinyanyikan oleh penyanyi lain. Bukan karena penyanyi lain kalah kualitas dari Nining, tetapi ada persoalan chemistry di mana posisi Nining tak tergantikan.Melalui ”Kalangkang,” Nining Meida mampu mempertontonkan apa yang tidak atau kurang dimiliki penyanyi pop Sunda pada umumnya, aura Priangan.Tidaklah mengherankan ketika aura itu berpadu dengan lirik-lirik lembutdan puitis, serta momentum kemunculan pop Sunda yang tepat, terciptalah sebuah fenomena.

Lagu ”Kalangkang” (1986) yang direkam oleh label Wishnu Record sukses menjadi fenomena di panggung musik pop Sunda.


Konon, album yang masih dikemas dalam format pita kaset itu terjual hingga dua juta kopi dan disebut-sebut sebagai lagu pop Sunda paling laris sepanjang masa. Tak hanya mendapat hadiah mobil Carry--waktu itu cukup mewah--dan anugerahBASF/HDX Award, Nining pun mengecap puncak popularitasnya sebagaipenyanyi pop Sunda.


Sejak sukses lewat ”Kalangkang,” Nining tertahbiskan sebagai penyanyi pop Sunda nomor satu. Wishnu Record pun menjadikannya sebagai ”kojo”alias penyanyi andalan pencetak hits dan--tentu saja--pendulang uang. Nining pun dikontrak jangka panjang selama dua puluh tahun oleh Wishnu Record. Selama rentang waktu kontrak panjang itu, sudah dua puluh album lebih dihasilkan, baik pop Sunda maupun tradisi.


Namun, bagi Nining sendiri, semua pencapaian tersebut tidaklah menjadikannya berbangga diri. Sebaliknya, di balik semua cerita suksespascalagu ”Kalangkang”, seperti ada ”rahasia” dan ”sisi lain” yang oleh Nining sendiri dianggap sebagai bagian dari perjalanan dan masa lalu yang sebaiknya dikubur saja. Terutama menyangkut reward yang mestinya ia dapatkan, tak sebanding dengan popularitas dan apa yang telah ia korbankan sebagai penyanyi pop Sunda nomor satu dalam waktu yang begitu panjang.


”Kalau bisa, saya memang ingin kembali ke masa kejayaan dan mengambil apa yang seharusnya jadi hak saya. Namun, ya sudahlah, rezeki sudah ada yang mengatur dan dalam bentuk lain, yakni suara dan ketenaran di masyarakat. Saya masih punya suara yang bisa diandalkan,” kata Nining dalam sebuah obrolan di Studio Doel Sumbang, beberapa waktu lalu.


Meski berkali-kali nada suaranya tercekat dan berkali-kali mengusap airmata, Nining mau juga berbagi rahasianya sebagai penyanyi pop Sunda paling populer. Jauh dari sangkaan orang, kisah hidup Nining tidaklah semanis yang disangkakan banyak orang. Nining pun mengungkap duka yang harus diterimanya sebagai penyanyi populer yang terikat oleh kontrak jangka panjang.


Menurut dia, menjalani kontrak jangka panjang ibarat hidup di dalam penjara. Setiap saat ia harus siap melahap menu yang disodorkan sipir, meski menu itu tak disukainya. ”Begitu pula dengan saya, sebagai penyanyi harus mau menyanyikan lagu-lagu yang disodorkan oleh produser dan pemilik label, meskipun lagu itu tidak saya sukai. Mau apa lagi.Tetapi saya enggak mau mengulang pengalaman buruk itu,” kata Nining yang mendapat Anugerah Musik Jabar 2005 itu.


Perkenalannya dengan Doel Sumbang kian menyadarkan Nining tentang perlunya kemandirian dan mengurangi ketergantungan kepada major label. Bersama Doel Sumbang pula Nining kini tengah mempersiapkan album berisi lagu-lagu the best milik Doel. ”Ini mungkin formatnya indie label ya, kita pake sistem sharing. Saya punya suara, Kang Doel punya rekaman.Katanya dia, ini bentuk pemberontakan terhadap major label,” kata Nining. (Muhtar Ibnu Thalab/”PR”;)***


Sumber: Pikiran Rakyat, Minggu 28 Februari 2010


Pembajakan Lagu Sunda

Posted by nining-meida on June 27, 2009 at 6:14 AM Comments comments (4)

TEMBANG "Kalangkang" yang disuarakan Nining Meida tahun 1989 boleh jadi merupakan tonggak kebangkitan seni musik, khususnya pop Sunda di tanah air. Di tengah lesunya industri kaset, tembang karya Nano S., justru berhasil terjual di atas 500.000 keping dan berhak atas penghargaan BASF Award dan HDX Award.


"Saat itu merupakan masa yang sulit bagi seni daerah (Sunda). Namun di masa sulit, Akang mampu meruntuhkan mitos kalau tembang daerah juga mampu bersaing dengan tembang pop maupun alternatif yang saat itu tengah digandrungi," ujar Nano S., di sela-sela acara "Silaturahmi Insan Pariwisata, Seniman, dan Budayawan Kota Bandung", di Hotel Horison, Kamis (12/6) malam.


Rasa percaya diri sebagai seniman semakin menggebu dan di tahun 1992 lahir tembang "Cinta Ketok Magic" yang dilantunkan Evie Tamala dan disusul tembang "Cinta" yang dinyanyikan Hetty Koes Endang. Hasilnya, kedua produksi kasetnya menyusul keberhasilan "Kalangkang".


Namun, di antara perasaan bangga, ada perasaan sedih yang menghinggapi diri seorang Nano S. "Saya merasa sedih karena kaset tersebut terus diproduksi tanpa memperoleh royalti sepersen pun. Hal ini sangat berbeda dengan perlakuan pelaku industri kaset di Amerika, mereka secara rutin masih memberi royalti antara 1.000 dolar AS hingga 2.000 dolar AS untuk karya-karya saya karena ternyata saya tercatat di Broadcast Music International," ujar Nano.


Menurut Nano, aksi pembajakan kaset karyanya dirasakan langsung terhadap produktivitas berkeseniannya.Tembang-tembang yang murni merupakan olah rasa dirinya hanya memperkaya orang perseorangan (produser). Banyaknya beredar kaset atau VCD bajakan, menjadikan harga kaset/VCD jatuh karena perang harga. Akibatnya, produser resmi tidak mau kembali memproduksi.


Saat ini, untuk mengantisipasi perilaku pembajakan tersebut Nano memproduksi sendiri (indie label) hasil karyanya. "Selain memproduksi, menjadi produsen, memasarkan sampai promosi, pokona kabeh ku Akang," ujar Nano. Kiat memproduksi kaset dan VCD sendiri dengan jumlah terbatas cukup efektif. Karena selain mengetahui langsung selera konsumen, juga bisa mengukur kemampuan pasar.


Hal senada dikatakan seniman sunda Tan Daseng yangmengibaratkan perilaku produsen yang membajak atau tepatnya memperbanyak kaset, VCD (video compact disc) maupun DVD sebagai perbuatan pesakitan. "Mereka tidak ubahnya seperti penjahat yang melakukan tindakan kriminal karena sudah melakukan perbuatan tanpa seizin pemilik," ujar Tan Daseng.


Sayangnya, meskipun sudah dinyatakan sebagai perbuatan kriminal, pihak pemerintah (terutama kepolisian) seakan tidak berdaya untuk mengatasinya. "Pada akhirnya karena tidak ada tindakan, kaset maupun VCD dan DVD bajakan dijual secara bebas dan mudah didapatkan," tambahnya.


Di kalangan pencipta lagu, menurut Wahyu Ronce, salah seorang komposer pop sunda, saat ini lebih dikenal dengan istilah jual lagu ketimbang jual ciptaan atau karya berikut hak ciptanya yang otomatis melekat. "Kondisi tersebut mengakibatkan produser dalam hal ini bertindak juga sebagai perantara yang menyiapkan lagu dan menawarkannya kepada calon penyanyi atau penyanyi yang memiliki uang," ujar Wahyu.


Kondisi seperti sekarang ini, menurut Wahyu, pencipta dalam posisi serba sulit. "Tidak berkarya tapi butuh uang untuk makan sehari-hari, mau memproduksi sendiri tidak punya modal atau sponsor, akhirnya balik lagi ke produser," ujar Wahyu.


Salah satu upaya yang dilakukan Wahyu saat ini adalah menjemput bola. Dalam artian, karya-karyanya hanya dijual kepada produsen maupun penyanyi yang membutuhkan dengan berbagai catatan atau dilakukan perjanjian hitam di atas putih.


Meskipun hasil yang didapatkan kurang maksimal karena karyanya dihargai belum sesuai harapan, namun Wahyu mengaku sudah merasa puas. "Setidaknya saya sudah berusaha meminimalisasi dan menjadikan karya saya lebih dihargai," ujar Wahyu.


Sementara itu, Ketua Paguyuban Seniman Rekaman Tatar Sunda (Panaratas), Dadi Gyardani, mengatakan kondisi yang diciptakanoleh para pelaku penggandaan dan pembajakan karya cipta seniman (pop Sunda) sudah sulit dikendalikan. "Situasi ini sebenarnya juga dialami seniman maupun musisi lain, tapi khusus karya-karya musisi daerah (Sunda) lebih parah karena peredarannya sulit dideteksi," ujar Dadi, didampingi Revki Maraktifa, Wakil Ketua Panaratas.


Bagi seniman atau musisi yang baru muncul, kondisi industri musik saat ini dapat membuat frustrasi. Karena untuk memproduksi atau memitakasetkan karya, mereka membutuhkan uang (modal) tidak sedikit, sedangkan hasilnya tidak sesuai harapan.


"Mungkin, bagi mereka yang lagunya meledak (populer) akan sedikit terobati dengan kepopuleran dan job yang datang. Tapi,bagi mereka yang pas-pasan, akan frustrasi," ujar Dadi.


Terciptanya kondisi industri rekaman seperti sekarang ini lebih dikarenakan lemahnya penegakan hukum. Tidak terciptanya iklim yang sehat di industri kaset juga sebagai salah satu pemicu.


Oleh karenanya, sebagai salah satu upaya untuk mengeliminasi aksi pembajakan, pelaku industri musik, musisi, dan masyarakat yang peduli terhadap seni bergabung di Panaratas.


"Kita ada bukan untuk menghentikan karena aksi pembajakan masih akan terus berlangsung dan tidak akan dapat dihentikan. Namun, setidaknya dengan keberadaan kami, aksi pembajakan maupun peredaran kaset, VCD, maupun DVD dapat dikurangi," ujar Dadi.


Pola distribusi diubah


Sementara itu, pengamat masalah industri musik dan rekaman, D. Zein, menilai bahwa maraknya produk bajakan karena ada mekanisme yang salah dalam industri tersebut. Mulai dari mahalnya harga jual kaset, VCD, atau DVD, hingga kesalahan dalam pola distribusi.


"Yang bikin mahal itu karena biasa lisensi, promosi, cukai, dan pajak di kita sangat tinggi. Sudah begitu, pola distribusinya juga terpusat. Nah, agar masalah bajak-membajak ini bisa kita atasi, salah satunya kita harus benahi pola distribusi, jangan terpusat, biar ego wilayah muncul," kata Zein di Bandung, belum lama ini.


Sebenarnya, kata Zein, produk bajakan bisa ditekan jika harga jual kaset, VCD, dan DVD ditekan semurah mungkin, mendekati harga produk bajakan. Berdasarkan hitungannya, harga VCD atau DVD orisinal yang dianggap ekonomis untuk pasar Indonesia ada pada kisaran dua kali harga jual produk bajakan. "Sebenarnya pedagang bajakan akan lebih senang jika berjualan barang yang legal," kata Zein. (RetnoHY/Muhtar Ibnu Thalab/"PR") ***


Sumber: Pikiran Rakyat, Sabtu, 27 Juni 2009

 

 


Dari "Kalangkang", "Ema", Hingga "Kabogoh Jauh"

Posted by nining-meida on June 27, 2009 at 6:10 AM Comments comments (5)

MENYUSUR kembali jejak sukses industri musik pop Sunda, tidak terlepas dari tiga nama besar yakni Nano S., Doel Sumbang, dan Darso. Betapa tidak, ketiga sosok tersebut bukan saja meledak secara komersial. Akan tetapi, juga berhasil menciptakan matra baru musik pop Sunda. Seniman Nano S. misalnya, ia berhasil merebut pasar dengan tiga juta kopi untuk album "Kalangkang" (1984) dan masih dikopi ulang sampai sekarang. Produser rekamannya kewalahan.


Semula "Kalangkang" diproduksi BASF, tetapi karena permintaan cukup besar, akhirnya diproduksi HDX. Tak mengherankan bila lagu yang dibawakan Nining Meida ini mendapat dua penghargaan "BASF Award dan "HDX Award" pada 1989. "Kalangkang" juga berhasil melambungkan nama Nining Meida dan menggeser penyanyi-penyanyi lain yang sebelumnya manggung.


Keberhasilan ini dilanjutkan dengan keberhasilan berikutnya lewat album "Tibelat" (1988) dan "Cinta Ketok Mejik" (1992) yang juga booming pada waktu itu. Keberhasilan Nano yang lain, dia berhasil menciptakan aliran baru musik pop Sunda. Nano mengolaborasikan musik pentatonik Sunda ke dalam musik pop. Baik dari komposisi maupun alat musik yang digunakan seperti gamelan dipadukan dengan gitar, dll.


Karya Nano ini tentu saja merupakan terobosan baru dari industri musik Sunda yang sebelumnya hanya bermain dalam warna degung dan kliningan. Lewat kepiawaiannya, Nano berhasil menyuguhkan karya baru berupa musik pop bernuansa Sunda. Pencapaian ini diikuti para pengekornya sampai sekarang. Sosok berikutnya adalah Doel Sumbang. Penyanyi tambun ini, bukan saja menawarkan lagu-lagu bermuatan kritik sosial, melainkan juga beraroma cinta sangat kuat.


Album "Ema" berhasil dicetak 1,5 juta kopi. Disusul album-album berikutnya yang kerap dikumandangkan radio, televisi, sampai ke warung kopi dan angkutan umum. Warna musik Doel, cenderung ringan dan mudah dicerna. Meski terkadang isinya tentang putus cinta atau hal-hal yang berba muram, Doel mengaransemennya dalam nada riang. Sama halnya Nano S., musik karya Doel ini diikuti para pengekornya.


Dalam hal ini, Doel dan Nano telah menjadi "penanda" warna musik pop Sunda yang sedang tumbuh. Pada era sekarang, muncul Hendarso atau lebih populer dengan sebutan Darso. Penyanyi "nyeleneh" ini berhasil meraup 1,5 juta kopi untuk album "Kabogoh Jauh". Lagu yang berbasis irama calung ini, diputar di mana-mana. Bahkan, jumlah oplah CD bajakannya menurut Ketua Paguyuban Seniman Rekaman Tatar Sunda (Panaratas), Dadi Gyardani Jiwapraja, dicetak lebih kurang tiga kali lipat oplah CD orisinal. Darso pun melejit.


Hampir semua album pop Sunda yang diproduksi pascalagu "Kabogoh Jauh", semuanya mengikuti aliran Darso. Belakangan atau tepatnya setahun lalu, muncul penyanyi anak-anak bernama Kustian. Ia berhasil merebut pasar dengan 150 ribu keping CD dalam tempo tiga bulan. Penggemarnya pun melebar, tidak melulu anak-anak, tetapi juga kalangan remaja, dewasa, sampai ke ibu-ibu dan bapak-bapak.


Dampak lain yang paling kentara dari keberhasilan para fenomenon ini adalah kejenuhan dan keseragaman dalam karya. Para penjiplak dengan leluasa membuat karya yang sama dengan musik yang ditawarkan ketiga tokoh tersebut. Sen produser selaku pemilik modal, ingin menangguk keuntungan secara lebih besar lagi. Tak mengherankan, pada saat ketiga fenomenon itu berkibar, selama itu pula lagu-lagu yang keluar sama: mengikuti aliran Nano S., Doel, dan Darso.


Kondisi ini menurut Dadi, wajar terjadi. Sebab bagaimana pun industri musik pop tak ubahnya dengan esensi pop itu sendiri yang bersifat sesaat. Alasan Dadi tidak mencemaskan tren para pengekor tersebut kembali pada selera masyarakat. Menurutnya, selera masyarakat terhadap musik, kerap berubah setiap lima tahun sekali. Walaupun tidak berhubungan langsung dengan kondisi sosial politik yang sedang terjadi, perilaku masyarakat dalam mengonsumsi dan mengapresiasi musik turut memengaruhi mereka dalam memilih lagu. "Jadi, tidak perlu dikhawatirkan. Toh, dari sekian banyak insan musik pop Sunda yang terpaksa `melacurkan` diri demi mengejar komersial, masih banyak insan musik lainnya yang tetap berpegang pada idealisme dan pakem musik yang baik," ujar Dadi optimistik. (Eriyanti/"PR")***


Sumber : Pikiran Rakyat, Sabtu, 20 Juni 2009


Rss_feed

Site Clock

Share on Facebook

Share on Facebook

Recent Forum Posts

No recent posts